Belajar Tajwid, Hukum Mim dan Nun Tasydid

Hukum Mim dan Nun Tasydid - Mim dan Nun yang bertasydid biasa disebut dengan Gunnah. Huruf yang bertasydid pada dasarnya berasal dari 2 huruf, yang pertama sukun dan yang kedua berharakat.
Mim Tasydid, yaitu:



  1. Mim Tasydid berasal dari 2 huruf mim, yang pertama sukun dan yang kedua berharakat. Mim yang pertama dimasukkan/berpadu ke dalam mim yang kedua, maka terjadilah satu huruf yang bertasydid. Hukum Mim tasydid adalah harus dibaca ghunnah (mendengung), 2 harakat.
  2. Nun Tasydid, yaitu:Nun Tasydid berasal dari 2 huruf nun, yang pertama sukun dan yang kedua berharakat. Nun yang pertama dimasukkan/berpadu ke dalam nun yang kedua, maka terjadilah satu huruf yang bertasydid. Hukum Nun tasydid adalah harus dibaca ghunnah (mendengung), 2 harakat.


Bacaan yang diucapkan dengan dengung atau sengau dalam hidung seperti bunyi  ‘…nnn…’, ‘ ….mmm….’, ‘….ng….’. dapat terjadi bila bertemu Nun bertasydid , maka ghunnah atau dengung ( …..nnn….) harus diucapkan. Suara dengung tersebut disebut Ghunnah Nuun. Juga jika bertemu Mim bertasydid   maka dengung ( ….mmm….) harus diucapkan juga, dan suara dengung tersebut disebut Ghunnah Miim. Ghunnah Nuun dan Miim masing-masing sepanjang 2 sampai 3 harkat.
Contoh :
           TSUM-MA     LAM-MA     IN-NAHUM      AN-NUJUUM
Nun  dan Mim   yang bertasydid itu asalnya masing-masing kembar dua hurufnya, yang pertama bertanda saksi sukun (mati) dan yang kedua diganti dengan tanda saksi tasydid. Sedangkan panjang bunyi suara dengungnya 2 – 3 harkat (ketukan).
Contoh :
            TSUM-MA   berasal dari   TSUM-MA
             IN-NAHUM     berasal dari     IN-NAHUM(Belajar Tajwid)